Kampung halaman, tak berarti halaman rumah, juga tak berarti rumah yang ada di kampung, ya memang kampung halamanku adalah tempat dimana dulu aku dilahirkan, tempat aku bermain semasa anak-anak, disana tinggal nenek dan kakekku, juga kedua orang tuaku, dulu kampung halamanku memang sebuah kampung, semasa kecilku dulu masih kuingat bahwa kendaraan bermotor masih bisa dihitung dgn jari jumlahnya, karena jalan raya belum ada dan tak terhubung ke kota lain, betapa eksotiknya kampungku, berada ditepian sungai besar, Kuala berarti muara, ya, Kuala Kapuas adalah muara sungai Kapuas, kampungku dikelilingi dua buah sungai besar, jalan raya utama kampungku saat itu adalah sungai, sangat indah dan eksotik, airnya berwarna hitam bersih, tapi kini kampung halamanku bukan lagi sebuah kampung, kini telah menjelma menjadi sebuah kota kecil.
Kini kakek nenekku semua telah tiada, bersama sirna indahnya sungai kapuas, yang sudah mulai tercemar sampah, kini hanya sebuah selokan kecil yang kutemukan ditengah pasar, padahal dulu itu adalah sebuah sungai kecil yang berada di Gg. Famili tempatku berenang dulu, sepertinya sungai dan Gang itu telah punah, teman-teman sebaya masa kanak-kanakku juga sudah tak kutau lagi kemana rimbanya.
Mengapa dan haruskah pembangunan itu merubah segalanya ? mengapa negeri ini tak membangun manusianya, bukankah alam ini dititipkan kepada kita untuk dikelola agar selalu lestari, bukankah membangun peradapan yang baik itu dimulai dengan membangun SDM-nya dulu baru alam dan lingkungan. SDM yang berkualitas akan mengerti fungsi dia dibumi ini adalah khalifah yang memelihara dan menjaga semua yang dicipta oleh sang Khaliq. SDM yang bobrok hanya akan mendatangkan kehancuran dan bencana bagi bumi akibat keserakahannya.
Rabu, 08 April 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
